“REMAJA DAN
CINTA’’
“CINTA” itu selalu sederhana, bukan
perkara “aku cinta kamu, maukah kau menjadi pacarku?” dan juga bukan perkara
“aku mencintainya, taukah ia tentang ini” sama sekali bukan.. cinta dan remaja.
Khas memang jika seorang remaja dikaitkan dengan cinta. Mengapa bisa begitu?
Karna pada awal masa inilah kita bisa menilai, bisa tertarik dan bisa merasakan
sesuatu yang mungkin ‘spesial’ yang belum pernah kita rasakan sebelumnya, ya.
Tampan,cantik,baik hati,sopan,gaul,trendy,macho dan cerdas menjadi salah satu
factor utama seorang remaja mengagumi atau mencintai lawan jenisnya. Dan tentu
‘akhlak mulialah’ fakor yang paling dikagumi diantara factor-faktor yang lain.
Mengapa? Karna sudah fitrahnya seorang manusia mengagumi manusia yang berakhlak
baik. Lantas bagaimana kah seharusnya
remaja menyikapi hal atau fitrah tersebut ? bagaimanakah jika dituangkan dalam
hubungan yang bernama ‘’pacaran’’ ?? sekilas.. banyak sekali korban perasaan
akibat berpacaran. Tentu saja, hubungan ini tidak diresmikan hukum, ia
berselingkuh kau tak bisa mengadukannya, sakit hati? Itu resikonya. Dan yang
lebih parah ketika kau diminta membuktikan seberapa besar cintamu kepadanya kau
relakan apapun yang menjadi milikmu, rasa hormat hilang? Sakit hati? Kau hanya
menanggung malu jika kau laporkan perilakunya kepada yang berwajib, tinggal lah
engkau seorang diri dengan beban penuh sesak yang kau bagikan kepada
keluargamu. Ya kehormatan keluargamu pun hilang seketika beriringan dengan
membesarnya perutmu, apa yang kan kau lakukan? Menikah? Bagaimana jika usiamu
belum cukup karna masih sekolah? Mengugurkan ? 2 dosa besar yang kau lakukan 1.
Berzina , 2. Membunuh. WAW bukan.. ya, dampak pacaran begitu buruk. Tak ada
hubungan lain sekeji “pacaran” bagaimana jika aktifis pacaran dengan metode LDR
atau Long Distance Relationship ? Omygat. Begitu dahsyat kah perasaanmu itu
hingga memaksakan hubungan walaupun dengan jarak jauh? Apa jaminannya bahwa ia
tetap menjaga perasaanmu? Bagaimana jika ia juga mengatakan hal yang sama untuk
seseorang diluar sana? Tak menutup kemungkinan bukan jika ia berani katakana
cinta setengah mati padamu, ia akan berani katakana hal itu kepada orang lain?
Huft.. rumit.. bagaimana kah aku dapat mengetahui sedemikian rupa dampak
negative pacaran? Apakah aku pernah mengalaminya? Seribu syukur ku ucapkan
kepada yang mempunyai hati ku. Satu kalimat perhatianpun tak kulontarkan kepada
lelaki yang belum menjadi hak-ku. Ya! Dahulu aku sudah mempunyai prinsip bahwa
pacaran itu finalnya putus, apalagi untuk bocah seumuranku, yang belum mengerti
apa itu cinta. Ternyata benar sahabat-sahabatku teman temanku yang berpacaran
seusia remaja finalnya “putus” kau tahu kenapa? Karna.. tiap harinya tiap
minggunya tiap bulannya bahkan tiap tahunnya ada seseorang yang lebih baik-
lebbih cantik – lebih ganteng .. lebih dan lebih lagi. Hingga ia mencoba untuk
menunjukkan bahwa sekarang aku lebih pantas untuknya, bukan lagi dengannya.
Lalu? Akhirnya putus—nyambung dengan yang baru – putus lagi – cari yang baru..
berulang-ulang sampai masa remaja habis dinikmati oleh pacaran. Bagaimana
akhirnya? Pendamping hidupnya kini mendapatkan sisa-sisa gombalan yang pernah
ia keluarkan, sisa-sisa perhatian yang pernah ia utarakan.. hatinya sudah
banyak yang memasuki, yang terakhir menjadi yang terakhir.. ironis! Seharusnya
yang benar-benar itu yang harusnya ditempatkan posisi paling istimewa. Ya..
begitulah labilnya remaja, lantas apakah remaja hanya seperti itu? Jawabannya
tak.. tak semua remaja berlaku seperti itu untuk urusan perasaannya. Aku
mempunyai banyak sahabat yang menjadi inspirasiku tentang masalah perasaan…
#Nika 17-Thn
“cinta itu cukup aku yang
merasakannya, Allah yang mengetahuinya. Karna jika sudah saatnya, aku tak perlu
khawatir ia akan bersama dengan sendirinya”
#YULI 16-THN
“aku hanya menikmati
perasaan yang ada, tak mengungkapkannya kepada orang yang salah, hanya ku
ungkapkan pada orang-orang yang mengerti, yang tidak mengompori untuk melakukan
hubungan tak halal, karna bagiku, memberikan cinta untuk seseorang itu hanya
sekali seumur hidup, hanya untuk yang halal”
Seperti itulah beberapa testimoni
sahabat remajaku yang mengungkapkan tentang cinta . itu baru yang dari anak
anak remaja yang faham hakikat cinta sebenarnya. Belum lagi yang sudah
berpengalaman dalam dunia ‘pacaran’ alias ia pernah pacaran namun sekarang
sudah tak ingin lagi mungkin ia jera atas dampak pacaran..
#TRIA
16THN
.
#

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
trimiss sudah meluangkan waktu untuk membaca.. kami butuh kritik dan saran nya :) silahkan beri komentar